Ikhtiar PHR Menjaga Rimba Raya dan Populasi Gajah Sumatera

0 472

 

DIKETAHUI beberapa dasawarsa, Minas yang masuk dalam daerah administrasi Kabupaten Siak, Provinsi Riau ini, sering dianggap akronim dari minyak nasional. Karena menjadi suatu daerah penghasil minyak menopang pendapatan Negara Indonesia. Meski begitu, tak semua jadi tempat eksplorasi dan produksi minyak, tapi ada juga menjadi lokasi penjagaan ekosistem alam.

Dimana di daerah ini ada terdapat Pusat Konservasi Gajah (PKG), dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau. Untuk masuk ke PKG Minas itu, melewati Pertamina Hulu Rokan (PHR). Karena yang berada sekitar Wilayah Kerja Rokan (WKR). Dan diketahui lokasi PKG tak begitu jauh dari simpang keluar Gerbang Tol Minas. Jika dari Pekanbaru, setelah lewati gerbang itu sekitar 1-2 KM, disebelah kiri.

Setelah itu, masuk sekitar 3 KM melalui jalan tanah dan bebatuan. Dimana sisi kiri tampak pipa-pipa besi aliran minyak yang dikelola PHR saat ini, dulu dengan nama Chevron Pasific Indonesia. Maka, terlihat juga sumur-sumur minyak yang dikeliling pagar besi, dikarena memang informasi minyak disini tak gunakannya pompa angguk seperti lokasi lain. Yang karena tak berat untuk diangkat ke atas, sehingga seperti pompa air saja.

PKG Minas masuk dalam Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sulthan Syarif Hasyim. Karena, sebelum masuk lokasi PKG itu ada gerbang selamat datang ke Tahura Sulthan Syarif Kasim diketahu luas ada sekitar 6 ribuan hektare. Sementara hal luasnya kawasan PKG itu mencapai 20 hektare. Dalam perjalanan menuju PKG akan terlihat pengeboran sumur minyak, baik yang baru maupun perbaikan untuk tujuannya menambah produksi.

Sesampai di lokasi PKG Minas itu maka akan terlihat sejumlah pihak melakukan aktivitas dalam halnya menjaga 16 ekor gajah. Yakni mulai dari 16 Mahout atau Pawang Gajah, 20 petugas dari BBKSDA Riau Wilayah IV, dan Mitra PHR didalam mendukung upaya konservasi gajah ini yakni Rimba Satwa Foundation. Dari 16 gajah di PKG Minas ini, diketahui terdiri atas 10 gajah jantan dan 6 betina. Yang semuanya ini adalah gajah jinak.

Rombongan jurnalis di Provinsi Riau bersama PHR dan pihak lainnya di PKG Minas

 

Di lokasi PKG Minas itu tampak petugas membawa berbagai buah-buahan, yang seperti semangka dan nanas. Semua itu dipersiapkan untuk di makan gajah. Dan bersamaan seekor gajah bernama Indah datang dengan pawangnya. Indah, yakni merupa gajah betina berumur 57 tahun dengan berat capai sekitar 3 ton. Ia pun menjulurkan belalainya itu, untuk ambil potongan semangka yang dibawa oleh petugas, dan langsung melahap.

Tak lama berselang, datang rombongan gajah lainnya itu bersama pawang. Ada Vera dan Dayang yang merupakan gajah betina, serta datang Bangkin dan Togar merupa gajah jantan. Dari sekian gajah itu, hanya Togar yang masih kecil yakni berumur sekitar 3,5 tahun, dengan berat masih sekitar 300 kg. Togar merupakan gajah yang dievakuasi dari Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil, berada di area Kabupaten Bengkalis, serta Siak.

Togar dievakuasi karena kakinya terjerat kawat sehingga ini perlu perawatan dan penyembuhan saat itu. Sekarang, untuk kembali ke alam liar ini yang dibutuhkan akan kajian. Hal itu, apakah Togar akan mampu beradaptasi atau tidak. Dengan kisahnya itu, Togar menjadi favorit para pengunjung untuk dibelai, karena sudah jinal. Togar tingginya, yakni baru sekitar satu meter ini telah ada gading. Hal itu, yang sebagai pertandanya jantan.

Minas Jadi Surga Kawanan Gajah

Adalah Togar, yang menjadi saksi kalau PKG yang dibina PHR menjadi harapan masa depan gajah-gajah di Riau untuk hidup tenang. Togar bisa bebas lari-lari, serta berkeliling, bahkan duduk dengan bersama pengunjung. Dia tampak telah dengan leluasa, setelah jadi salah satu anggota kawanan gajah lainnya. Togar diketahui itu merupakan anak gajah liar. Dilaporkan oleh masyarakat kena jerat, dan telah ditinggal kawanannya.

Akibat perburuan liar dan beralih fungsi dari hutan menjadi ladang, pemukiman, kebun sawit, yang membuat gajah-gajah di Riau kian terdesak. Saat ini, populasi mereka terus berkurang dan kini hanya tersisa ratusan ekor. “Togar ini, merupa anak gajah liar. Dilaporkan masyarakat kena jerat. Sudah ditinggal kawanannya, badannya lemas, kakinya luka. Maka itu dilakukan perawatan, dan setelah enam bulan kembali sehat,’’ ujar Zulhusni.

Ketua Rimba Satwa Foundation inipun, mengatakan, awalnya Togar mengalami kesulitan untuk tinggal bersama dengan kawanan gajah jinak. Karena, dia sudah
terbiasa meikuti kawanan gajah liar dan terus saja menjelajah di hutan, tepatnya sekitar Cagar Biosfer Giam Siak Kecil di Siak dan Bengkalis. Berkat keuletan dari pawang itu, telah membuat dirinya bisa beradaptasi dengan kondisi. Maka yang membuat Togar ini menjadi favorit.

Zulhusni mengatakan, Togar diharapkan jadi pelanjut kawanan, dikarena menjadi pejantan tangguh pada masa hadapan. Disaat ini, tingginya baru semeter kotor, namun gadingnya sudah mulai muncul di sela-sela belalainya. Dikatakan, kalau
keseharian gajah selalu bersama-sama pawang yang bekerja untuk membersih kandangnya, memandikan, dan bahkan menemani mencari makan. Sebab yang ada disediakan itu saja tidak cukup.

“Untuk konsumsi gajah itu, karena porsi makannya hewan seharian sebanyak 10 persen dari berat badannya. Maka, bisa dibayangkan pada gajah berbobot 3 ton, tentu makannya itu dalam sehari adalah 300 kg. Untuk itu segala tumbuhan yang ada di Tahura ini akan menjadi makanan mulai dari rumput, daun ataupun ranting pepohonan. Hal itu selain buah-buahan. Gajah juga, harus berjalan 30 kilometer didalam satu hari,” ungkap Zulhusni.

Menariknya lagi, Togar yang sudah jinak ini menjadi penghubung antar kawanan liar dan jinak. Dikarena PKG yang sudah dikenali sesama kawanan gajah lokasi berkembang biak. Makanya tiap periode Agustus-Oktober jadwal kedatangannya kawanan dari gajah liar itu, untuk kawin. Jadi mereka ini akan mengunjungi areal 6.000 hektare hutan lindung, untuk bisa mencari pejantan dapat membuahi. Hal itu ada dibuatkan areal 30-50 meter,

Zulhusni mengatakan, Togar kini sudah jinak dan terus dilatih untuk menyesuai diri dengan gajah lainnya. Maklum, dia merupakan gajah liar terkadang masih ingat hidup bersama kawanan. Seperti awal-awal dulu menjaganya hampir 24 jam. Sekarang sudah menyatu dengan yang lain, bahkan sudah mudah diajak berfoto, dan bergabung dengan lainnya.

Lalu, mengapa setelah sehat, Togar tak dikembalikan ke hutan serta bergabung dengan kawanan liar ? Kata Zulhusni, ini setelah dirisik ternyata BBKSDA punya pertimbangan sendiri. Salah satunya itu kelangsungan hidup dan keselamatan di alam bebas. Maksudnya, yang namanya gajah jantan, selalu diburu untuk diambil gadingnya. Selain itu khawatir juga soal makannya. Kalau disini telah tercukupi.

Penulis berpose di gapura, saat akan memasuki kawasan PHR

 

Kepedulian dan Komitmen PHR

PKG Minas yang berada di sekitar lokasi eksplorasi dan produksi minyak PHR. Ini menjadi kepedulianya untuk membantu, dan merupa komitmen yang sejak lama. Sebelum alih kelola ke PHR, dulunya PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) itu juga ada melakukan hal yang sama. Namun PHR terus konsisten untuk mensuport PKG melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), yakni sejak tahun 2021 lalu.

‘’Komitmen itu kami sudah dituangkan dalam MoU untuk 10 tahun ke depan.
Dalam hal ini kami tentunya mendukung infrastruktur dan makanan gajah. Untuk supaya gajah-gajah bisa terpelihara dan terlindungi secara baik. Kami memaham adanya pertumbuhanya penduduk yang tinggi, membuka lahan, yang membuat habitatnya terganggu, Jadi konflik tidak terelakan,’’ sebut Analyst Sosial Performance PHR WK Rokan Priawansyah.

Dukungan dari PHR merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), untuk hal mendukung program konservasi gajah tidak hanya di PKG Minas saja. Namun juga gajah liar berada di perlintasan WK Rokan, Provinsi Riau. Untuk hal semua wilayah itu, PHR mengalokasikan dana Rp24 miliar selama 10 tahun dalam hal membantu makanan dan infrastruktur hewan mamalia darat terbesar ini.

Untuk gajah di PKG Minas, katanya, PHR memberikan makanan sekitar Rp80 ribu satu hari untuk satu ekor. Bantuan yang diberikan tersebut merupakan makanan malam bagi gajah berupa pelepah sawit didatangkan oleh pihak ketiga ditunjuk BBKSDA Provinsi Riau. Pada sore hari akan datang beberapa truk pelepah sawit untuk gajah. Dalam satu tahun makanan gajah itu menghabiskan dana Rp400 juta.

Memandikan gajah dilakukan karyawan PHR

 

Selain untuk PKG ini, Priawansyah juga mengatakan, PHR sangat mendukung ekosistem gajah liar dari beberapa kantong seperti Kantong Balai Raja, Bengkalis, dan Giam Siak Kecil yang jumlahnya sekitar 70 ekor. Salah satu di antara 70 gajah itu adalah gajah bernama Codet yang viral saat melintasi Jalan Tol Pekanbaru-Dumai.

Untuk mendukung kelestarian gajah liar yang melintasi WK Rokan mulai dari Duri, Kabupaten Bengkalis, hingga Minas, katanya, PHR ada mengadakan empat Global Positioning System Collar atau kalung GPS. Inovasi teknologi GPS Collar untuk bisa melacak keberadaan sekitar 70 gajah liar yang dikalungkan pada leher kepala-kepala suku gajah.

Satu kalung GPS itu harganya sekitar Rp65 juta yang diimpor dari Afrika. Namun realisasinya bukanlah alat itu yang mahal, melainkan proses mengalungkan GPS itu. Butuh biaya operasional yang tidak sedikit untuk mengetahui di mana posisi kawanan gajah tersebut. Setelah bertemu maka pemasangannya harus oleh pihak yang ahli melakukannya. Biasanya dibius, namun gajah tidak pingsan, hanya berdiri saja.

Gajah hidup dengan berjalan hingga 30 KM setiap hari bersama rombongan itu biasanya lebih dari 10 ekor. Biasanya ini gajah yang kecil akan berada di tengah dilindungi gajah dewasa. Meskipun itu, kadang-kadang gajah jantan juga yang memisahkan diri. Dengan kalung GPS tersebut, mitra PHR yakni RSF tangani gajah liar tersebut, akan bisa memantau pergerakan gajah.

Apabila gajah sudah mendekat kepada pemukiman warga, maka akan segera diberitahukan. “Selanjutnya, pihak RSF yang bersama petugas kehutanan akan berusaha mengarahkan gajah liar untu dapat meninggalkan pemukiman warga. Biasanya, itu dilakukan dengan mercon ataupun dengan membawa gajah jinak dari PKG Minas,” katanya.

Selain itu sambung Priawansyah, dalam hal ini PHR juga sudah menginisiasikan program Agro Forestry itu kepada desa yang menjadi lintasan gajah. Antara lain dengan menanam tanaman yang tidak disukai gajah. Seperti jengkol, jeruk, dan alpukat agar tak terjadi interaksi negatif. Setiap kampung sudah ada orang yang bertanggung jawab mendamaikan gajah dan manusia.

Gajah Hama yang Dilindungi

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi BBKSDA Riau Wilayah IV, Azmardi ketika berbincang, mengatakan, di sekitar PKG Minas ini, juga ada sekitar 11 ekor gajah liar yang berkelana hingga ke Pekanbaru dan Kampar. Tempat yang biasa dilewat gajah tidak pernah berubah dan hewan ini juga mampu mengingat dengan kuat. Misalnya jalan itu yang dilewatinya 5-10 tahun lalu, akan dilalui kawanan gajah.

“Gajah memang dikenal sebagai hewan yang memiliki ingatan yang sangat kuat. Bila dia (gajah, red) itu pernah melewati suatu tempat, maka ia akan ingat terus hingga berpuluh tahun kemudian. Maka bila suatu hari, mungkin disaat sedang duduk di teras rumahmu sambil ngopi, dan menikmati angin sepoi-sepoi. Dan tiba-tiba ada hewan besar berbelalai ini muncul. Bisa jadi puluhan tahun silam daerah itu memang pernah jadi jalur perlintasan gajah,” kata Azmardi.

Azmardi menambahkan, pihaknya terus berusaha meedukasi masyarakat untuk tidak menyakiti gajah ini, dan agar tidak terjadi kerugian yang lebih besar. Sebab gajah adalah hewan yang pendendam. Mereka ini masih ingat sampai puluhan tahun ke depan bila disakiti. Sambung dia, untuk di PKG Minas ini ada sekitar 20 personel BBKSDA Riau ditugaskan. Mereka akan berbagi tugas mengawasi kondisi gajah.

Di mata petani sawit, hewan ini awalnya tak lebih dari sekedar hama. Ya, karena gajah itu suka memakan umbut sawit. Bayangkan berapa ruginya petani bila kebun yang jadi tumpuan masa depan keluarga, dirawat diberi pupuk secara berkala, tiba-tiba dalam semalam habis diinjak dan dimakan rombongan hewan raksasa ini. Lalu bagaimana hal caranya agar hama besar ini tak lagi merugikan masyarakat, khususnya petani?

Karyawan PHR dan pihak PKG Minas sedang dialog memberi pengarahan

 

Oleh karena itu, kata Azmardi, pihaknya sangat mendukung PHR menunjukkan komitmen yang kuat didalam perannya menjaga keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi ini sekaligus dan bahkan dapat juga meningkatkan perekonomian masyarakat. Dimana, pihak PHR dalam hal ini menggandeng RSF untuk edukasi pada masyarakat agar mengubah sudut pandang mereka terhadap gajah. Bahwa gajah adalah binatang satwa dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Azmardi mengatakan, salah satu cara yang dilakukan agar interaksi negatif ini tak terjadi adalah dengan mengedukasi masyarakat berada wilayah perlintasan gajah untuk menanam tanaman yang tidak disukai gajah. Seperti hal tanam itu jengkol, jeruk, dan alpukat agar tak terjadi interaksi negatif. Dan ini merupa salah satu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bidang lingkungan PT PHR

“Melalui program ini, warga yang berada di jalur perlintasan gajah, juga diedukasi hal untuk menanam jenis tanaman yang tidak disukai hewan itu. Program ini tak hanya memberikan satu dampak, yaitu mengurangi resiko dimakan gajah, tapi juga memiliki nilai ekonomi yang bagus untuk para petani. Selain itu melindungi daerah dari kawanan gajah, juga dapat menciptakan alam keberagaman hayati. Pasalnya, jenis tanaman itu punya nilai jual yang bagus di pasaran,” kata Azmardi.

Penulis:

Dairul Riadi

Wartawan Derakpost, Bermastautin di Kota Pekanbaru

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.